Menciptakan Insan yang berwawasan Iptek dan Imtak yang menghargai kearifan lokal dan bersahaja serta memiliki intelektual mandiri

Tuesday, February 9, 2021

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN 2021

PPDB 2021

Telah Dibuka Penerimaa'an Peserta Didik Baru MI darul Muna Sumberagung Tahun Ajaran 2021 - 2022 , untuk wali murid segera daftarkan putra dan putri anda Karena pendaftaran tidak dipungut biaya apapun , 

bagi yang ingin mendaftarkan putra putrinya dapat mengisi link yang kami sediakan di bawah ini

Isian Formulir Pedaftaran

>>> KLIK DISINI <<<

Saturday, February 8, 2020

LOMBA MEWARNA MILAD KE 33 MI DARUL MUNA SUMBERAGUNG

Pada hari ini sabtu tanggal 08 Februari tahun 2020 MI darul Muna Sumberagung menyelenggarakan lomba mewarna kolaborasi antara ibu dan anak , dengan peserta dari TK dan RA se desa sumberagung dan sekitarnya dalam rangka merayakan Milad Ke-33 
acara ini di selenggarakan demi tujuan terciptanya harmonisasi yang baik antara ibu dan anak yang tentunya hal itu akan membawa dampak positif bagi perkembangan psikologi anak, acara di mulai pukul 07:00WIB sesuai dengan jadwal yang di awali dengan sambutan dari Bapak Zaenul Komar,S.Pd.I selaku kepala madrasah. beliau menyampaikan bahwa hubungan antara orang tua dan anak sangat penting  untuk perkembangan kepribadian dan mental anak didik terutama di masa masa "Usia Emas" dimana anak sangat butuh dukungan dan keterlibatan orang tua untuk menciptakan karakter dan mindset anak menjadi lebih baik, selain itu tujuan dari di selenggarakanya kegiatan ini adalah memperkenalakan MI darul Muna sumberagung di kalangan masyarakat luas mengenai program dan keunggulan, demi menyambut tahun ajaran baru 2020-2021, acara berlangsung selama tiga jam hingga di dapatkan hasil dari lomba tersebut yaitu
Juara 1 di peroleh ananda Hafiza Khaira Lubna dari RA Perwanida 01 Sukosewu
Juara 2 di peroleh ananda Amirah Azmi dari TK Dharma Wanita  02 Sumberagung
Juara 3 Diperoleh ananda Aqila Rahma Azzahra dari TK Dharma Wanita 01 Sumberagung
Juara Harapan 1 diperoleh ananda Ahmad Faiq Fahmi Dari TK Al Hidayah 01 Sumberagung
Juara Harapan 2 diperoleh ananda Refina Putri Agustina dari TK AL Hidayah 03 Sumberagung
Juara Harapan 3 di peroleh anandaM. Fahmi Amrullah dari TK AL Hidayah 02 Sumberagung
para pemenang memperoleh trofi dan sertifikat serta hadiah tambahan dari sponsor,
acara di tutup pukul 11:00WIB oleh kepala madrasah dengan menyampaikan terimakasih atas partisipasi dari setiap yang hadir .

Tuesday, August 9, 2016

PTK Peningkatan Hasil Belajar

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI
PEMBERIAN PEKERJAAN RUMAH DENGAN KESUKARAN
BERJENJANG  PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SUB
POKOK BAHASAN FAKTOR PERSEKUTUAN TERBESAR
DAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL
DI MI DARUL MUNA SUMBERAGUNG
GANDUSARI BLITAR TAHUN 2016

Rida Sulihfin
NIM . 837457719
UPBJJ-UT Malang
Alamat E-mail : sulihfinrida@gmail.com

Abstrak
Matematika adalah pelajaran yang dianggap  sulit. Hasil  pembelajaran Matematika di kelas VI MI Darul Muna Sumberagung  rendah, siswa tidak  dapat menggunakan FPB dan KPK untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat  dirumuskan masalahnya yaitu “Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika sub pokok bahasan FPB dan KPK melalui pemberian PR dengan kesukaran berjenjang di MI Darul Muna Sumberagung Gandusari Blitar Tahun 2016?
Peneliti menggunakan desain penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari 3 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VI MI Darul Muna Sumberagung  Gandusari yang berjumlah 20 siswa.  Tujuan penelitian  untuk memperoleh deskripsi tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui pemberian pekerjaan rumah dengan kesukaran berjenjang pada pembelajaran matematika sub pokok bahasan FPB dan KPK. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, untuk merekam data yang berkaitan dengan perilaku belajar siswa,  tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Hasil observasi dari lapangan  dapat disimpulkan  bahwa rata-rata hasil belajar  siklus pada siklus I 60,  65 pada siklus II, pada siklus III  79. Peningkatan hasil belajar searah dengan peningkatan  kesiapan belajar siswa dalam belajar yaitu dari siklus I ke siklus II meningkat  12 %,  dari siklus II ke siklus III meningkat 10%.
Kata Kunci : Hasil Belajar FPB

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
1. Identifikasi Masalah
Bagi siswa MI Darul Muna Sumberagung Matematika adalah salah satu pelajaran yang  dianggap sulit. Munculnya fobia matematika pada siswa juga disebabkan sugesti yang tertanam dalam benak seorang anak bahwa matematika itu sulit. Sugesti tersebut muncul dari orang- orang sekitar yang menyatakan matematika itu sulit. Munculnya anggapan bahwa pelajaran matematika sulit,  disebabkan pada pengajaran yang lebih menekankan pada hafalan dan kecepatan berhitung.
2. Analisis Masalah
Kenyataan proses belajar mengajar matematika di MI Darul Muna masih belum sesuai dengan hakikat matematika. Kegiatan belajar mengajar disekolah, guru masih menggunakan matode konvensioanl proses Drill and Practise dalam menyampaikan materi. Siswa di berikan definisi-definisi, setelah itu langsung pada contoh-contoh, sehingga peserta didik hanya memperoleh catatan-catatan yang berupa simbol dan rumus-rumus saja, tidak ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Salah satu usaha guru dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa yaitu dengan menerapkan pembelajaran melalui Tugas Pekerjaan Rumah (PR). Tujuan pemberian tugas PR ini adalah siswa tetap belajar dirumah dan dapat memanfaatkan waktu di luar jam pelajaran sekolah, sehingga siswa yang kurang paham terhadap materi yang disampaikan akan menjadi lebih mengerti.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan permasalahan yaitu “Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika sub pokok bahasan FPB dan KPK melalui pemberian pekerjaan rumah dengan kesukaran berjenjang di MI Darul Muna Sumberagung Gandusari Blitar Tahun Pelajaran 2015/2016?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah memperoleh deskripsi tentang peningkatan hasil belajar siswa melalui pemberian pekerjaan rumah dengan kesukaran berjenjang pada pembelajaran Matematika sub pokok bahasan FPB dan KPK di MI Darul Muna Sumberagung Gandusari Blitar tahun Pelajaran 2015/2016.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yaitu:
1. Hasil penelitian ini sangat berguna bagi peneliti sendiri sebagai media pengembangan dan perluasan ilmu pengetahuan baik secara teori maupun praktik sesuai dengan disiplin ilmu yang telah peneliti pelajari
2. Sebagai masukan bagi para guru matematika sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran matematika
3. Sebagai acuan bagi penelitian lain yang lebih lanjut berkenaan dengan pemberian pekerjaan rumah (PR) pada mata pelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

II. Kajian Pustaka
A. Pembelajaran Matematika

1. Hakikat Pembelajaran Matematika
Salah satu unsur pokok dalam pembelajaran matematika termasuk di SD adalah matematika itu sendiri. Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani mathein atau manthenein yang artinya mempelajari, namun diduga kata itu erat pula hubungannya dengan kata Sansekerta medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan, atau intelegensi. Andi Hakim Nasution dalam Karso (2004:1.39).
Hakikat matematika menurut Frans Susilo dalam Pendidikan Sains yang Humanistik yaitu :
1. Matematika bukanlah ilmu yang memiliki kebenaran mutlak, kebenaran dalam matematika adalah kebenaran yang tergantung pada kesepakatan bersama.
2. Matematika bukanlah ilmu yang tidak dapat salah. Sebagai ilmu yang dikembangkan oleh manusia, matematika tentu tidak luput dari keterlibatan dan kesalahan manusiawi.
3. Matematika bukanlah kumpulan simbol dan rumus yang tak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya matematika tumbuh dari dan berakar dalam dunia nyata.
4. Matematika bukanlah teknik pengerjaan yang perlu di hafal saja sehingga siap pakai untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
5. Obyek matematika adalah unsur yang bersifat sosio-kultural historis yaitu merupakan milik bersama seluruh umat manusia, sebagai salah satu sarana yang digunakan.

B. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250), “hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.” Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Menurut Hamalik (2006:30), “hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.”

C. Pekerjaan Rumah
1. Pengertian Pekerjaan Rumah
Istilah PR sangat terkenal bagi siswa. PR merupakan akronim dari pekerjaan rumah. Menurut Kesumawati (1996:40), “pekerjaan rumah adalah suatu tugas yang diberikan oleh guru untuk dikerjakan oleh siswa di rumah”.
Dalam http://icas66.blogspot.com/2009/12/dampak-pemberian-pr-terhadap-penguasaan.html (online, di akses 23 Mei 2016) di jelaskan pula bahwa “Pekerjaan Rumah adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu dimana waktu dan tempat mengerjkannya tidak dilakukan dalam tatap muka di kelas yang bertujuan melatih keterampilan siswa”. Di tambahkan pula PR dapat diindividualisasikan atau diberikan kepada seluruh siswa di kelas, dalam bentuk kegiatan belajar individual maupun kelompok.

2. Manfaat Pekerjaan Rumah
Di antara manfaat yang akan diraih oleh anak-anak bertalian dengan pemberian tugas atau PR ialah:
· Memberikan kesempatan belajar yang lebih aktif, lebih luas, dan lebih menyenangkan kepada anak.
· Mendorong anak belajar memecahkan masalah-masalah yang bertalian dengan kehidupan di masyarakat melalui PR.
· Memperkaya dan memperluas serta memperdalam pengetahuan anak, baik yang behubungan secara langsung maupun tak langsung dengan bidang pengajaran di sekolah.
· Mengembangkan rasa sosial dan rasa tanggungjawab melalui kerja sama dalam mengerjakan tugas PR.
· Melatih ketelitian siswa serta membiasakan siswa untuk belajar di rumah
· Mempertajam daya ingat siswa meningkatkan motivasi siawa dalam belajar
· Melatih siswa lebih mengerti sehingga timbul minat siswa terhadap pelajaran.
· Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar
· Meningkatkan prestasi belajar siswa
· Membina dan memperkuat hubungan kerja sama antara sekolah dan keluarga, serta antara guru dan orang tua.
· Tugas PR yang sesuai dengan minat dan kebutuhan individual anak-akan mendorong mereka belajar lebih aktif.
· Tugas PR mendorong siswa memanfaatkan waktu senggangnya di rumah secara baik, bahkan dapat befungsi sebagai kegiatan rekreatif.
· Memberikan keempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan keterampilannya sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. (Kesumawati, 1996:42).

3. Prinsip-Prinsip Pekerjaan Rumah
Meskipun istilah Pekerjaan Rumah atau PR ini adalah bukan barang baru, namun tak kerap PR hanya menjadi beban bagi siswa, karena PR yang diberikan tidak menggunakan prinsip-prinsip yang benar. Perlu di ingat bahwa dalam pemberian pekerjaan rumah harus berprinsip pada:
· Memberikan pekerjaan rumah hendaklah bervariasi, sesuai dengan tingkat kesukaran soal dan di sesuaikan dengan kemampuan siswa.
· Lama waktu pemberian pekerjaan rumah hendaklah jelas, sehingga tidak merupakan beban yang berlarut-larut dan menumpuk bagi siswa.
· Berikan pekerjaan rumah sesuai dengan materi yang sedang dipelajari kemudian diperiksa dan diberi penghargaan berupa nilai
· Soal-soal pekerjaan rumah yang tidak bisa dikerjakan siswa hendaknyadibahas
· Memberikan pekerjaan rumah jangan terlalu banyak
(Kesumawati, 1996:41).
4. Strategi Pemberian Pekerjaan Rumah
PR ini diberikan kepada para siswa pada akhir pelajaran, pokok  bahasan atau sub pokok bahasan, bahkan pertemuan. Tugas yang diberikan hendaknya dipersiapkan dengan baik oleh guru sehingga dapat melahirkan penguasaan atas pengetahuan dan keterampilan tertentu. Guru membua tsoal, baik sewaktu mengajar atau pun sebelumnya, Jumlah soal/skop materi yang diberikan mesti mencakup seluruh bahan yang diajarkan pada bahasan waktu itu, bahkan di upayakan ada bahan yang bersifat mengulang pelajaranyang telah lalu.
Guru hendaknya memberikan penjelasan yang cukup tentang materi tersebut sehingga tidak timbul kesalahfahaman dalam pelaksanaannya. Guru hendaknya membimbing pekerjaan tersebut, terutama bila para siswa mengalami kesulitan serta memberikan petunjuk  penyelesaiannya.
Pemeriksaan terhadap PR tadi bisa dilakukan beberapa menit sebelum pelajaran dimulai pada jam bahasan berikutnya atau guru menyediakan waktu ekstra untuk itu. Ketika para siswa tidak mengerjakan tugas, atau tugasnya belum selesai, bisa diberikan hukuman yang bersifat edukatif demi  mendorong motivasi mereka.

D. FPB dan KPK
1. FPB
FPB (faktor persekutuan terbesar) dari dua bilangan atau lebih dapat dicari menggunakan beberapa cara. FPB dapat ditentukan dengan cara-cara sebagai berikut:
· Pemfaktoran
· Faktorisasi Prima

2. KPK
· Mencari Kelipatan
· Faktorisasi Prima

III. Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
A. Subjek, Tempat dan Waktu  Penelitian
1. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di  kelas VI semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 20 siswa.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Darul Muna  Jalan Soeprijadi No. 199 Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

3. Waktu Penelitian
Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam 3 siklus, Prasiklus dilaksanakan pada tanggal 19 April 2016, Siklus 1 pada 26 April 2016, Siklus II pada 03 Mei 2016 dan Siklus III dilaksanakan pada 10 Mei 2016.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Menurut Kunandar (2008: 44-45), Penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksiakn tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus. Adapun pelaksanaan penelitian tindakan kelas berlangsung melalui tahapan-tahapan atau siklus-siklus. Secara umum siklus-siklus dalam penalitian tindakan kelas dapat dijelaskan melalui gambar berikut :
Gambar  1
Model Classroom Action Research Kemmis & Teggart
Plan


Reflection



Action/
observation
Revised plan



Reflection
Revised plan



Action/
observation


Sumber: Pedoman PTK, Lokakarya KTI, Djoko Saryono, Agustus 2007.
· Plan (perencanaan), yaitu merumuskan masalah, menentukan tujuan dan metode penelitian, serta membuat rencana tindakan.
· Action (Tindakan), yaitu melakukan tindakan sesuai dengan perencanaan sebagai upaya perubahan yang dilakukan.
· Observation  (0bservasi), dilakukan secara sistematis pada saat pelaksanaan tindakan untuk mengamati hasil atau dampak tindakan terhadap proses belajar mengajar
· Reflection (refleksi), yaitu untuk mengkaji dan mempertimbangkan hasi atau dampak tindakan yang dilakukan. Sekaligus sebagai pijakan untuk menentukan  rencana pada siklus berikutnya.

Secara operasional prosedur, penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
Siklus I
a. Perencanaan
Pada perencanaan siklus I ini, peneliti berpijak pada hasil observasi awal yang telah dilakukan, yaitu berupaya untuk menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang dapat meningkatkan minat belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti membuat beberapa rencana dan persiapan sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Pendekatan dan metode  pembelajaran
· Pendekatan : Kontekstual dan Kooperatif
· Metode : Penugasan, Kerja Kelompok, Demonstrasi
2) Menyusun dan membuat media pembelajaran
Berupa: lembar kerja siswa dan Pekerjaan Rumah (PR). pada siklus I ini siswa diberi PR sebanyak 10 soal dengan rincian, 5 soal mudah, 3 soal sedang, dan 2 soal sulit. Materi untuk PR adalah seputar menentukan FPB dan KPK. PR ini akan dievaluasi dan dibahas pada pertemuan siklus II.
3) Menyiapkan instrumen penelitian
Berupa: Lembar pre test, Lembar Evaluasi akhir, dan lembar observasi siswa.
b. Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 26 April 2016. Pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan. Prosedur pelaksanaan yang dilakukan peneliti terdiri dari tiga kegiatan yaitu kegiatan awal selama 5 menit, kegiatan inti selama 40 menit dan kegiatan akhir selama 25 menit.
Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pelaksanan pembelajaran yang telah disusun dengan menggunakan bahan ajar dan media yang sudah dipersiapkan, termasuk kegiatan evaluasi dan pemberian PR.
a. Pengamatan/Observasi
Selama pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan observasi terhadap perilaku siswa dalam pembelajaran, sebagai indikator keberhasilan tindakan, yaitu:
· Membawa buku pelajaran, Menjawab pretest dengan benar, Mengerjakan PR, Menjawab PR dengan benar, Bermain sendiri, Membicarakan hal diluar pelajaran, Mengantuk, Keluar masuk ruangan lebih dari 2 kali, Mengajukan pertanyaan, Menjawab pertanyaan, Memperhatikan penjelasan guru

b. Refleksi
Refleksi dilakukan untuk menganalisis hasil observasi dan evaluasi siklus I.
Refleksi terhadap hasil observasi dilakukan untuk mengetahui:
· Jumlah siswa yang membawa buku pelajaran, Jumlah siswa yang menjawab pretest dengan benar,  Jumlah siswa yang mengerjakan PR, Jumlah siswa yang dapat menjawab PR dengan benar, Jumlah siswa yang bermain sendiri, Jumlah siswa yang membicarakan hal diluar pelajaran, Jumlah siswa yang mengantuk, Jumlah siswa yang keluar masuk ruangan lebih dari 2 kali, Jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan, Jumlah siswa yang menjawab pertanyaan, Jumlah siswa yang memperhatikan penjelasan guru
Sedangkan refleksi terhadap hasil evaluasi dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa, melalui analisis tes.
Siklus II
a. Perencanaan
Pada perencanaan siklus II ini, peneliti berpijak pada hasil siklus I, yaitu berupaya untuk menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang dapat meningkatkan minat belajar.
Pada siklus ini direncanakan tindakan yang merupakan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I, antara lain sebagai berikut:
· Memberikan tambahan perhatian dan motivasi kepada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran.
· Meningkatkan keberanian siswa bertanya dengan mewajibkan setiap siswa menyampaikan pertanyaan minimal 1 pertanyaan.
Oleh karena itu, peneliti membuat beberapa rencana dan persiapan sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
· Pendekatan : Kontekstual dan Kooperatif
· Metode : Penugasan, Kerja Kelompok, Demonstrasi
2) Menyusun dan membuat media pembelajaran
Berupa: lembar kerja siswa dan Pekerjaan Rumah (PR). pada siklus II ini siswa diberi PR sebanyak 5 soal dengan rincian, 1 soal mudah, 2 soal sedang, dan 2 soal sulit. Materi untuk PR adalah seputar menentukan FPB dan KPK. PR ini akan dievaluasi dan dibahas pada pertemuan siklus III.
3) Menyiapkan instrumen penelitian
Berupa: Lembar pre test, Lembar Evaluasi akhir, dan lembar observasi siswa.
b. Pelaksanaan tindakan
Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pelaksanan pembelajaran yang telah disusun dengan menggunakan bahan ajar dan media yang sudah dipersiapkan, termasuk kegiatan evaluasidan pemberian PR.

c. Pengamatan/Observasi
Kegiatan observasi menggunakan lembar observasi yang sama dengan siklus I
d. Refleksi
Kegiatan refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk memperoleh data sebagai tindak lanjut dari siklus I, sekaligus menentukan arah rencana siklus berikutnya.

Siklus III
a. Perencanaan
Rencana untuk siklus III disusun berdasarkan hasil refleksi siklus II.
b. Pelaksanaan tindakan
Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, termasuk evaluasi dan pemberian PR.
c. Pengamatan/Observasi
Kegiatan observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi
d. Refleksi
Kegiatan refleksi pada siklus III, Peneliti mengulas hasil observasi mengenai perubahan yang terjadi dari Siklus I dan siklus II, dan siklus III, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang diberikan.
C. Tehnik Analisis Data
Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan:
· Lembar Observasi
Untuk mengumpulkan data tentang kesiapan siswa dan perilaku belajar siswa selama pembelajaran.
Lembar Observasi dianalisis dengan rumus:
P   =    a       x   100%
    b
Keterangan :
P = prosentase data
a = jumlah siswa yang berperilaku tertentu
b = jumlah responden
Untuk menganalisa peningkatan kesiapan siswa setiap siklus digunakan rumus:

            P =  Post Rate      ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­-     Base Rate    x  100%
                                   Base Rate
Keterangan :
P = presentasi peningkatan
Post rate = Nilai rata-rata sesudah tindakan
Base rate = Nilai rata-rata sebelum tindakan
· Lembar pre test/ tes awal
Untuk mengetahui kesiapan belajar siswa
· Lembar evaluasi/ tes hasil belajar
Untuk mengetahui hasil belajar siswa setiap siklus tindakan
· Lembar PR
Untuk memperoleh data peningkatan hasil belajar mandiri dari siswa.
· Catatan Peneliti
Untuk mencatat semua penemuan-penemuan selama pelaksanaan tindakan.

IV. Hasil  Dan Pembahasan

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Hasil Kegiatan observasi dan refleksi awal
Melihat hasil tes formatif sebelum perbaikan tentang FPB dan KPK dengan rata-rata hanya 53, siswa yang mendapatnilairendahsebanyak 14 (70 %) siswa, nilaisedang 6 (30 %) siswadannilaitinggi 0 (0 %) siswa. Padasaatpembelajaranmasihbanyaksiswa yang bermainsendiri, mengantuk, keluarmasukruanganlebihdari 2 kali dan banyaknya siswa yang tidak mengerjakan PR, oleh karena itu peneliti perlu mengadakan perbaikan pembelajaran yang kemudian disebut pembelajaran siklus I.

2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada perencanaan siklus I ini, peneliti berpijak pada hasil observasi awal yang telah dilakukan, yaitu berupaya untuk menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang dapat meningkatkan minat belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti membuat beberapa rencana dan persiapan sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP)
2) Menyusun dan membuat media pembelajaran
3) Menyiapkan instrumen penelitian
c. Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 26 April 2016. Pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan. Prosedur pelaksanaan yang dilakukan peneliti terdiri dari tiga kegiatan yaitu kegiatan awal selama 5 menit, kegiatan inti selama 40 menit dan kegiatan akhir selama 25 menit.
d. Observasi
Selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung peneliti dibantu teman sejawat melakukan pengamatan untuk melihat bagaimana proses belajar siswa. Pengamatan yang dilakukan baik oleh peneliti maupun teman sejawat untuk mengetahui bagaimana kesiapan siswa dalam belajar, perhatian dan keaktifan siswa, serta hasil tindakan pada siklus I. Pengamatan dari teman sejawat juga berguna untuk melihat kelemahan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Dengan mengetahui kelemahan dalam pembelajaran akan mudah untuk menentukan langkah yang akan diambil dalam pembelajaran berikutnya.
Dari pelaksanaan evaluasi akhir siklus I diperoleh nilai rata-rata 60, dengan perincian 8 (40 %) siswa mendapat nilai rendah, 10 (50 %) siswa mendapat nilai sedang dan 2 (10%) siswa mendapat nilai tinggi.
Dari pelaksanaan siklus I diperoleh data seperti dalam tabel berikut:
Tabel 1
Data Kesiapan Siswa Menerima Pelajaran Siklus I


No Aspek Pengamatan Banyak Siswa Prosentase Ket  
1. Siswa membawa buku pelajaran 19 95% Kriteria “siap”
 jika siswa mencapai
prosentase 70%  
2. Siswa menjawab pretest dengan benar 12 60%  
3. Siswa mengerjakan PR 14 70%  
4. Siswa menjawab pekerjaan rumah dengan benar 13 65%  
Jumlah 58  
Rata-rata 73%



Tabel 2
Data Perilaku Siswa Selama KBM Siklus I

No Aspek Pengamatan
Banyak Siswa  
1. Bermain sendiri 4  
2. Membicarakan hal di luar pelajaran 8  
3. Mengantuk 2  
4 Keluar masuk ruangan lebih dari 2 kali 2  
5 Membawa buku pelajaran 19  
6 Mengajukan pertanyaan 6  
7 Menjawab pertanyaan 8  
8 Memperhatikan penjelasan guru 16

e. Refleksi
Dari hasil observasi pada siklus I dapat diketahui adanya peningkatan perilaku positif siswa dan kesiapan siswa daripada sebelum pemberian tindakan. Akan tetapi, melalui observasi juga masih ditemui kendala atau masalah yang muncul selama tindakan siklus I.
Kendala-kendala pada siklus I sebagai berikut:
1) Peneliti masih menemukan rendahnya minat belajar siswa sehingga harus diberi banyak rangsangan dalam belajar.
2) Masih rendahnya keberanian siswa untuk bertanya
3) Pada saat pembelajaran berlangsung peneliti masih menemui siswa yang bermain sendiri dan tidak aktif penuh dalam kegiatan kelompok.
4) Masih ada beberapa siswa yang mendapat nilai di bawah KKM.
Dari kendala-kendala yang muncul di atas, peneliti mengadakan revisi pembelajaran berikutnya. Adapaun bentuk-bentuk revisi tersebut sebagai berikut:
1) Menyusun Rencana Pelaksanan Pembelajaran yang lebih kontekstual dengan aneka media, agar siswa mampu menggunakan FPB dan KPK untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
2) Memberikan perhatian pada siswa yang tidak aktif selama pelajaran
3) Meningkatkan keberanian siswa bertanya, dengan cara meminta siswa menyiapkan minimal satu pertanyaan untuk pertemuan berikutnya.
4) Memberikan PR kepada siswa dengan jumlah lebih sedikit.

3. Siklus II
a. Perencanaan
Pada perencanaan siklus II ini, peneliti berpijak pada hasil siklus I, yaitu berupaya untuk menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang dapat meningkatkan minat belajar.
Pada siklus ini direncanakan tindakan yang merupakan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I, antara lain sebagai berikut:
· Memberikan tambahan perhatian dan motivasi kepada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran.
· Meningkatkan keberanian siswa bertanya dengan mewajibkan setiap siswa menyampaikan pertanyaan minimal 1 pertanyaan.
Oleh karena itu, peneliti membuat beberapa rencana dan persiapan sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2) Menyusun dan membuat media pembelajaran
3) Menyiapkan instrumen penelitian
b. Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 3 Mei 2016. Pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan. Prosedur pelaksanaan yang dilakukan peneliti terdiri dari tiga kegiatan yaitu kegiatan awal selama 5 menit, kegiatan inti selama 40 menit dan kegiatan akhir selama 25 menit.
c. Observasi
Hasil pengamatan terhadap siklus II memperoleh temuan bahwa jumlah siswa yang berperilaku positif semakin bertambah dan siswa yang berperilaku negatif berkurang. Jumlah siswa yang mengerjakan PR bertambah, begitu pula jumlah siswa yang mampu menjawab pretest dengan benar. Dari pelaksanaan siklus II diperoleh data seperti dalam tabel berikut:
Tabel 3
Data Kesiapan Siswa Menerima Pelajaran Siklus II

No Aspek Pengamatan Banyak Siswa Prosentase Ket  
1. Siswa membawa buku pelajaran 20 100% Kriteria “siap”
jika siswa mencapaiprosentase70%  
2. Siswa menjawab pretest dengan benar 16 80%  
3. Siswa mengerjakan PR 17 85%  
4. Siswa menjawab pekerjaan rumah dengan benar 15 75%  
Jumlah 68  
Rata-rata 85%
Tabel 4
Data Perilaku Siswa Selama KBM Siklus II

No Aspek Pengamatan
Banyak Siswa
 
1. Bermain sendiri 3  
2. Membicarakan hal di luar pelajaran 6  
3. Mengantuk 1  
4 Keluar masuk ruangan lebih dari 2 kali 2  
5 Membawa buku pelajaran 20  
6 Mengajukan pertanyaan 9  
7 Menjawab pertanyaan 10  
8 Memperhatikan penjelasan guru 17

Pada akhir pelaksanaan siklus II, dilaksanakan evaluasi akhir, dan diperoleh nilai rata-rata siswa 65 dengan perincian 6 (30 %) siswa mendapat nilai rendah, 9 (45 %) siswa mendapat nilai sedang dan 5
 (25 %) siswa mendapat nilai tinggi.

d. Refleksi
Refleksi dari siklus II menunjukkan bahwa jika jumlah soal tidak terlalu banyak siswa maka nilai siswa semakin meningkat. Akan tetapi kendala yang muncul dari siklus II adalah kurang mampunya siswa memahami soal dalam bentuk cerita dan menuliskannya dalam bentuk matematis. Jadi pada siklus berikutnya akan lebih ditekankan pada melatih siswa memahami soal cerita dan menyelesaikannya dalam bentuk matematis.
4. Siklus III
a. Perencanaan
Pada perencanaan siklus III ini, peneliti berpijak pada hasil siklus II, yaitu berupaya untuk menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang
dapat meningkatkan minat belajar, serta melatih siswa untuk memahami soal cerita dan menyelesaikannya dalam bentuk matematis.
Oleh karena itu, peneliti membuat beberapa rencana dan persiapan sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Pendekatan dan metode  pembelajaran
· Pendekatan : Kontekstual dan Kooperatif
· Metode : Penugasan, Kerja Kelompok
2) Menyusun dan membuat media pembelajaran
Berupa: lembar kerja siswa dan Pekerjaan Rumah (PR). pada siklus III ini siswa diberi PR sebanyak 5 soal dengan rincian, 1 soal mudah, 1 soal sedang, dan 3 soal sulit. Materi untuk PR adalah seputar menentukan FPB dan KPK.
b. Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus III dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 10 Mei 2016. Pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan. Prosedur pelaksanaan yang dilakukan peneliti terdiri dari tiga kegiatan yaitu kegiatan awal selama 10 menit, kegiatan inti selama 35 menit dan kegiatan akhir selama 15 menit.
c. Observasi
Dari pelaksanaan siklus III diperoleh data seperti dalam tabel berikut:

Tabel 5
Data Kesiapan Siswa Menerima Pelajaran Siklus III


No Aspek Pengamatan Banyak Siswa Prosentase Ket  
1. Siswa membawa buku pelajaran 20 100% Kriteria “siap” jika siswa mencapai prosentase70%  
2. Siswa menjawab pretest dengan benar 18 90%  
3. Siswa mengerjakan PR 19 95%  
4. Siswa menjawab pekerjaan rumah dengan benar 19 95%  
Jumlah 118  
Rata-rata 95%


Tabel 6
Data Perilaku Siswa Selama KBM Siklus III

No Aspek Pengamatan
Banyak Siswa  
1. Bermain sendiri 0  
2. Membicarakan hal di luar pelajaran 2  
3. Mengantuk 1  
4 Keluar masuk ruangan lebih dari 2 kali 0  
5 Membawa buku pelajaran 20  
6 Mengajukan pertanyaan 11  
7 Menjawab pertanyaan 13  
8 Memperhatikan penjelasan guru 19

Pada akhir pelaksanaan siklus III, dilaksanakan evaluasi akhir, dan diperoleh nilai rata-rata siswa 75 dengan perincian 0 (0 %) siswa mendapat nilai rendah, 13 (65 %) siswa mendapat nilai sedangdan 7
(35 %) siswa mendapat nilai tinggi.

d. Refleksi
Dari keseluruhan siklus penelitian yang sudah dilaksanakan ternyata memang benar bahwa pemberian pekerjaan rumah dengan kesukaran berjenjang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini dilaksanakan dengan model penelitian tindakan kelas, dimana peneliti sekaligus bertindak sebagai guru di kelas. Penelitian dilaksanakan melalui tiga siklus. Pelaksanaan tindakan siklus I pada tanggal 26 Mei 2016, sedangkan siklus II dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2016, dan siklus III pada tanggal 10 Mei 2016. Tindakan pada siklus I diberikan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan observasi awal yang dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2016.
Hasil observasi awal menunjukkan rendahnya minat belajar siswa yang berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini berawal dari ketidaksiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, yang dibuktikan dengan beberapa siswa tidak membawa buku pelajaran, kurang mampu menjawab pretest dengan benar, serta tidak mengerjakan PR yang diberikan.
Selain pemberian PR, peneliti juga menerapkan pembelajaran dengan metode bervariasi dan memberikan penjelasan agar siswa semakin termotivasi untuk mengerjakan PR. sehingga pada akhirnya hasil belajar siswa meningkat.
Dari hasil belajar siswa dari siklus I, Siklus II dan siklus III keberhasilan siswa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 7
Prosentase Hasil Belajar Siswa

Siklus
Penelitian Jumlah Siswa Prosentase
Keberhasilan Siswa  
Tinggi
75-100 Sedang
60-74 Rendah
0-59  
Prasiklus 0 6 14 30 %  
I 2 10 8 60 %  
II 5 9 6 70 %  
III 7 13 0 100 %


Tabel 8
Hasil Belajar dan Kesiapan siswa per Siklus

Siklus Penelitian Rata-rata Hasil Belajar Prosentase Kesiapan Belajar Siswa Peningkatan  
Siklus I 60 73% 18%  
Siklus II 65 85% 12%  
Siklus III 75 95% 10%

Dari tabel di atas dapat diperoleh data bahwa kesiapan belajar siswa meningkat setiap siklusnya. Peningkatan kesiapan belajar ini berjalan searah dengan peningkatan hasil belajar siswa. Kesiapan belajar siswa dari sebelum pemberian tindakan ke siklus I meningkat 18 %. Dari siklus I ke siklus II meningkat sebanyak 12 %, sedangkan dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan sebanyak 10%. Demikian pula hasil belajar siswa. Dari sebelum pemberian tindakan diperoleh rata-rata 53, setelah  pemberian tindakan yaitu dari siklus I diperoleh rata-rata hasil belajar 60, rata-rata 65 pada siklus II, dan pada siklus III diperoleh rata-rata hasil belajar 75.

V. Simpulan dan Saran Tindak Lanjut

1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data di lapangan, maka penulis dapat membuat  kesimpulan bahwapemberian pekerjaan rumah dengan kesukaran berjenjang ternyatadapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika sub pokok bahasan FPB dan KPK di MI Darul Muna Sumberagung Gandusari Blitar Tahun pelajaran 2015/2016. Hasil evaluasisetiapakhirsiklus menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, dariprasiklusdiperoleh rata-rata hasilbelajar 53,  siklus I diperoleh rata-rata hasil belajar 60, rata-rata 65 pada siklus II, dan pada siklus III diperoleh rata-rata hasil belajar 75.Peningkatan hasilbelajar ini berjalan searah dengan peningkatan kesiapanbelajarsiswatermasukdalammengerjakan PR. Kesiapan belajar siswa dari prasikluskesiklus I meningkat 18%, siklus I ke siklus II meningkat sebanyak 12 %, sedangkan dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan sebanyak 10%.

2. Saran Tindak Lanjut

1. Kepada teman guru agar dalam hal pemberian PR kepada siswa, perlu adanya tambahan perhatian. Bagi siswa yang aktif perlu perhatian berupa penghargaan, dan bagi siswa yang kurang aktif perlu pendekatan agar mereka dapat memecahkan masalah sendiri sehingga dapat tuntas dalam belajar.
2. Kepada sekolah demi untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu adanya pembiasaan kepada siswa untuk mengerjakan PR secara mandiri, serta pemberian PR secara berkesinambungan dengan memperhatikan tingkat kesukaran dan jumlah PR

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

BSNP. 2007. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Dimyati dan Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar, 2006. Proses Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Harits, Jajang. 2011. Makna Dibalik Pemberian PR pada Siswa. http://bataviase.co.id/node/450955 (online, diakses tanggal 02 Oktober)

Karso, dkk. 2004. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas terbuka.

Kesumawati, Nila. 1996. PR untuk Melatih Ketrampilan Siswa Sebagai Suatu Usaha untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa dalam Bidang Studi Matematika. Bulletin STKIP-PGRI. No. 23. Tahun V.

Kunandar, S.Pd. M.Si. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kurniawan, Narni. 2008. Pekerjaan rumah Yang Efektif. http://narnikurniawan.blogspot.com/2008/11/pekerjaan-rumah-yang-efektif.html (online, diakses tanggal 01 Oktober 2011)

Nana Sudjana, 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdikarya.

Nasution. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Rustiyati, NK. 1985. Didaktik Metodik. Jakarta: Bina Aksara.

Sardiman, 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sriyono. 1992. Metode Mengajar. Jakarta: Gramedia.

Thursan Hakim, 2005. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara .

Winataputra, Udin S., Drs. H. M.A. dkk, 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

--------------------. 2009. Dampak Pemberian PR Terhadap Penguasaan Materi Pelajaran. http://icas66.blogspot.com/2009/12/dampak-pemberian-pr-terhadap-penguasaan.html (online, di akses 14 Oktober 2011)

Saturday, August 6, 2016

Dilematika Pendidikan

Dewasa ini pemerintah sangat konsen terhadap peninggkatan mutu dan kualitas sistem pendidikan di negara kita, dalam satu dekade ini sudah terjadi tiga kali perubahan sistem yang diupayakan pemerintah dalam rangka meingkatkan kualitas sistem pendidikan di indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar para peserta didik yang nantinya merupakan generasi yang akan memegang estafet regulasi sosial di indonesia.
Namun ironisnya banyak sekali kita jumpai berbagai permasalahan yang melibatkan peserta didik di negeri ini yang berseberangan jauh dari tujuan pendidikan nasional indonesia, banyak sekali kasus berupa penyimpangan sosial dan kepribadian yang terjadi di masyarakat yang di dominasi oleh kalangan pelajar, hal ini tentunya memunculkan polemik dan tanda tanya besar bagi kita semua tentang, apa yang salah dalam dunia pendidikan di indonesia, atau lebih kita tekankan lagi “siapa yang bertanggung jawab atas degradasi moral yang terjadi baru baru ini,
 Mari kita tarik garis merah permasalahan ini dengan kembali pada tujuan pendidikan nasional di indonesia dalam undang undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pada pasal 3 disebutkan bahwa “Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” mari kita telaah makna dari redaksi tersebut, di situ sangat jelas sekali bahwa tujuan daripada sistem pendidikan nasional memiliki singkronisasi yang kuat dalam rangka mencerdaskan tiga aspek dari potensi kecerdasan peserta didik yang mana kita ketahui meliputi daripada IQ (inteligence quotient) atau kecerdasan nalar peserta didik biasanya biasa kita kaitkan dengan kecerdasan akademis , selanjutnya adalah EQ (Emotional Quotient)/IE(inteligence Emotional) merupakan kecerdaan emosional peserta didik yang mana disini akan mempengaruhi moral daripada peserta didik, dan yang terakhir adalah SQ (spiritual Quotient) kecerdaasan spiritual yang kaitanya dengan iman atau keyakinan terhadap tuhan serta agama yang dianutnya, Ok dari situ sangat jelas bahwa singkatnya tujuan daripada pendidikan nasional adalah untuk “menciptakan” peserta didik yang nantinya akan memiliki kecerdasan akademik yang memiliki integritas moral dan akhlak serta berpedoman kepada keyakinan. Lalu apa dong yang salah selama ini. ??????
Mungkinkah sistem pendidikan yang selalu berganti ganti ini menjadikan permasalahan bagi pendidik untuk menerapkan konsep pendidikan yang pas dalam mengajar, atau malah permasalahan ini muncul dari degradasi profesionalitas pengajar dalam melayani peserta didik ? dari sini penulis menyimpulkan dengan berkaca dari fakta yang ada bahwa profesionalitas seoarang guru dewasa ini perlu dipertanyakan, mungkin masih banyak di luar sana yang jauh dari jangkauan mata saya ada seorang pendidik yang memegang teguh prinsip pengajaran berdasarkan konsep tersebut, namun perlu kita ketahui faktanya sekarang lebih banyak seorang guru yang lebih suka mengajar daripada mendidik ironis sekali bukan ? ya seperti yang kita ketahui konsen seorang guru sekarang lebih berkutat pada “prestasi Akademis” seorang siswa, memang tidak bisa kita pungkiri bahwa prestasi akademis sangat berpengaruh terhadap prestasi mengajar seorang guru yang nantinya juga menjadi pendongkrak kualitas sekolah di mata masyarakat, namun , apakah hanya sampai di situ saja kepuasan dari seorang pendidik,? Banyak sekali kasus yang terjadi seorang guru lebih suka cepat cepat menghabiskan materi pelajaran kepada siswa tanpa memperhatikan tingkat pemahaman mereka, banyak pula yang karena tuntutan “bukti profesionalitas” seorang pengajar lebih suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan berkas mengajar daripada masuk ke dalam kelas bersama siswa, padahal sudah jelas bahwa di era pendidikan modern ini guru memiliki beban lebih besar yaitu sebagai pusat pendidikan dasar anak setelah yang dulunya bepusat pada  pendidikan di lingkungan keluarga.
Seyogyanya seorang guru tidak hanya sekedar melakukan proses memberikan pengetahuan kepada siswa yang semula tidak tahu menjadi tahu, namun juga memberikan pemahaman dan bimbingan terkait materi yang diajarkan serta menanamkan nilai nilai kehidupan dalam setiap waktu dia bertatap muka dengan siswa,bahkan sering kita jumpai bahwa siswa lebih di cekok’i nilai Kompetisi daripada kompetensi, ada lagi kasus yang sangat ironis sekali dengan tugas pokok dan fungsi seorang guru, dimana kadang lebih suka mengajar murid yang sudah memiliki kecerdasan bawaan daripada membangun kualitas siswa dari nol, padahal sudah menjadi tanggung jawab seorang guru untuk meningkatkan kualitas siswa dari yang semula tidak bisa menjadi bisa dan kemudian faham, pernah saya mendengar pepatah bijak mengatakan bahwa “tidak ada siswa yang tidak bisa didik, kecuali jika seorang guru yang gagal mendidik”
Dalam perspektif pendidikan islam guru memiliki peranan yang sangat pentik dalam proses mengembangkan potensi seorang peserta didik, guru adalah orang yang bertangung jawabterhadap perkembangan jasmani dan rohani seorang peserta didik serta mengembanghkan ketrampilan dan pengetahuanya dalam kehidupan dalam rangka mempersiapkan seorang peserta didik sebagai manusia yang memikul tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh maupun sebagai hamba Allah di muka bumi,
Mungkin di mata pembaca tulisan ini  terkesan sangat radikal bila mengingat slogan yang mengangkat kehormatan guru sebagai “seorang pahlawan tanpa tanda jasa”, namun perlu ditekankan lagi bahwa kemuliaan itu tidak semata mata muncul dari sebuah “profesi” belaka melainkan dari tugas pokok dan fungsi seorang guru serta tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik, jadi lebih utama manakah,? Profesinya atau tanggung jawabnya ?. ingat seorang pahlawan pastinya harus mampu mengukir sebuah sejarah yang baik bagi negaranya tidak hanya sekedar menjalankan tugasnya, setidaknya ciptakanlah produk produk yang memiliki kompetensi serta integritas moral yang nantinya akan menjadi bagian dalam kehidupan sosial dan masyarakat di negara ini.
Jadi kesimpulanya sudah jelas bahwa profesionalitas seorang pendidik perlu ditingkatkan dalam rangka memberikan pembaharuan terhadap degradasi moral di kalangan pelajar dewasa ini, mengingat bahwa tersemat gelar “pahlawan” dalam diri seorang guru dan juga tanggung jawabnya bahwa tugas seorang guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik dan membimbing seorang peserta didik untuk menjadi lebih baik tidak hanya dalam hal prestasi akademisnya saja namun juga moralitas dan integritasnya sebagai manusia.
Jadi sebagai pendidik yang mau tidak mau harus sadar telah  terjun dalam permasalahan ini bagaimanakah langkah kita nantinya mengingat tantangan yang ada saat ini sudah semakin pelik, apakh kita hanya akan mengikuti arus yang ada sebagai sikap mencari “aman” atau memberikan gebrakan dan perubahan perubahan melawan degradasi yang sudah “membudaya” ini, mari kita siapkan kompetensi kita untuk menciptakan perubahan yang lebih pada seorang pendidik, untuk kualitas peserta didik dan masa depan bangsa yang lebih baik.

Thursday, August 4, 2016

Fitur dan Agenda Kegiatan Simpatika Semester 1 Tahun 2016/2017


Setelah ditutupnya masa verval Simpatika Tahun Pelajaran 2015/2016 semester satu pada 30 Juni 2016 serta masa jeda dan persiapan selama satu bulan, pada 1 Agustus 2016, layanan Simpatika akan kembali dibuka. Pada semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 layanan simpatika telah menyiapkan sederet fitur dan agenda yang layak kita cermati.

Beberapa fitur di semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 ini merupakan kelanjutan dari layanan pada semester sebelumnya. Namun terdapat juga penambahan beberapa fitur baru. Penambahan fitur dan agenda ini tentunya untuk mengakomodir pendataan online di lingkungan Kementerian Agama dengan segala dinamikanya.

Berdasarkan info yang didapat Simpatika Pati dari laman resmi Simpatika di facebook, pendataan online melalui layanan Simpatika periode Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 mulai dibuka pada tanggal 1 Agustus 2016. Masa verval ini akan berakhir pada 31 Desember 2016.

Beberapa fitur yang telah siap dirilis antara lain adalah:


Fitur yang Rilis Mulai 1 Agustus 2016

Mulai tanggal 1 Agustus 2016, beberapa fitur siap segera dirilis. Fitur-fitur tersebut adalah:

1. Pembagian Hak Akses Admin Kab/Kota ke Atas

Pembagian hak akses (roles) Admin tingkat Kabupaten/Kota, Kanwil Provinsi, dan Pusat sesuai dengan kewenangannya yang meliputi Admin Pendidikan Madrasah, Admin PAI, dan Admin Bimas.

2. Verval NRG Lanjutan

Verval NRG lanjutan ini ditujukan bagi guru pemilik Nomor Registrasi Guru (NRG) yang belum melakukan verval pada periode sebelumnya. Atau sudah melakukan verval tetapi ditolak atau belum disetujui oleh Admin tingkat Kanwil.

Jadi, bagi guru yang pada periode sebelumnya telah melakukan verval NRG akan tetapi ditolak ataupun Verval NRG-nya belum disetujui juga hingga 31 Juli, maka diberi kesempatan untuk mengikuti Verval NRG Lanjutan.

3. Verval Inpassing Lanjutan

Pun bagi pemilik SK Inpassing yang belum melakukan Verval Inpassing, telah melakukan verval tetapi 31 Juli 2016 belum disetujui hingga, atau telah melakukan verval NRG tetapi ditolak, maka diberi kesempatan untuk melakukan Verval Inpassing lanjutan. Baca : Cara Verval Inpassing di Simpatika [Lengkap]

4. Keaktifan PTK dan Cetak Kartu Digital

Seperti pada periode-periode sebelumnya, setiap guru wajib untuk melakukan keaktifan diri dengan cara mencetak Kartu Digital (Kartu Simpatika) untuk periode Semester 1 Tahun pelajaran 2016/2017. PTK yang tidak melakukan keaktifan diri hingga 31 Desemebr 2016 secara otomatis dianggap tidak aktif lagi sebagai PTK di semester ini.

Kepala RA dan Madrasah dapat mencetak Kartu Digital setelah melakukan pengajuan keaktifan kolektif (Ajuan S25a). Baca : Jangan Cetak S25a Sebelum 10 Hal Ini Beres

Bagi PTK yang pada semester sebelumnya belum melakukan kekatifan diri dan mencetak kartu digital, apakah dapat mencetaknya pada semester ini? Baca artikel sebelumnya: Jika Simpatika Semester Lalu Tidak Dikerjakan

5. Isian Jadwal Mengajar Guru

Isian Jadwal Mengajar Guru (Jadwal Mengajar Mingguan) masih menggunakan prosedur dan tata cara seperti pada semester sebelumnya. Kecuali, direncanakan, akan adanya pengakomodiran 4 JTM tambahan bagi madrasah yang menggunakan Kurikulum KTSP.

6. Registrasi Guru Baru Mapel Pendidikan Agama di Sekolah Kemdikbud

Admin Simpatika tingkat Kabupaten/Kota akan memiliki kewenangan untuk memproses registrasi guru baru untuk mata pelajaran Pendidikan Agama yang mengajar di sekolah yang bernaung di Kemendikbud.

7. Kamad PNS Dapat Ditempatkan di Madrasah Swasta

Jika pada periode semester sebelumnya, PNS tidak boleh menjadi Kepala Madrasah di Madrasah Swasta, maka pada periode ini, dirubah. Kepala Madrasah yang berstatus PNS diijinkan ditempatkan di madrasah swasta sekaligus diakui jam ekuivalensi-nya sesuai dengan jabatannya yakni 18 JTM. (Baca : Nasib PNS yang Menjabat Kamad di Madrasah Swasta)

8. Penerbitan Nomor Peserta Sertifikasi

Ini merupakan salah satu fitur baru yang baru muncul di periode Verval Simpatika Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017. Fitur ini untuk mengakomodir guru bersertifikasi, khusus pola sertifikasi dalam jabatan, yang belum memiliki nomor peserta.


Fitur yang Rilis Mulai 8 Agustus 2016

Selain fitur di atas, beberapa fitur akan dirilis mulai tanggal 8 Agustus 2016. Fitur-fitur Simpatika tersebut adalah:

1. Ajuan Ijin Belajar

Sebelumnya ajuan izin belajar dapat dilakukan melalui fitur 'Cuti Belajar'. Karena mulai semester ini guru-guru yang belum S1/D4 akan otomatis beralih fungsi menjadi Tenaga Kependidikan maka dimunculkanlah fitur baru, Ajuan Ijin Belajar.

2. Konfirmasi Kesesuaian Nama Mapel Sertifikasi

Ini pun adalah salah satu fitur baru. Fitur ini khusus bagi guru yang telah memiliki NRG Permanen (Verval NRG telah disetujui).

3. Verval Sertifikasi

Salah satu fitur baru yang ditunggu-tunggu oleh guru yang memiliki lebih dari satu sertifikat pendidik. Bagi guru-guru yang pernah mengikuti sertifikasi lebih dari sekali dapat melakukan Verval Sertifikasi. Tampaknya mereka akan diberi kesempatan untuk memilih salah satu diantara beberapa sertifikat pendidik yang dimilikinya.

4. Penambahan 4 JTM untuk KTSP

Khusus bagi madrasah yang masih menggunakan kurikulum KTSP akan diberi kesempatanuntuk melakukan penambahan sebanyak 4 jam tatap muka perminggunya. Sehingga struktur kurikulum sebagaimana yang digunakan pada semester lalu dapat ditambahi dengan 4 JTM. Dan Validasi Alokasi Jam Mengajardi Simpatika pun tentunya akan mengalami perubahan.

Penambahan 4 JTM ini apakah terbatas pada mata pelajaran yang terdaftar sesuai struktur kurikulum atau kah madrasah berwenang menambahkan mata pelajaran lainnya (seperti muatan lokal), kita tunggu saja.

5. Isian Jadwal Mengajar oleh Guru PAI Berbasis Kelas/Rombel

Mulai periode Semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 ini, guru PAI pun dalam pengisian Jadwal Mengajar Mingguannya akan berbasis kelas/rombel.

6. Cetak S25

Prosedur dan tata cara cetak S25 (Ajuan Kefs25aktifan Kolektif) di periode ini masih sama dengan periode sebelumnya.

7. Kewenangan Pencetakan SKBK

Kewenangan untuk mencetak SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja) akan terdiri atas dua jenis/macam, yaitu:


  • Kepala Madrasah Negeri mencetak SKBK bagi guru di satminkal madrasah negeri
  • Kepala Kantor Kemenag Kab/Kota bagi guru satminkal madrasah swasta

Fitur yang Rilis Mulai Akhir Agustus 2016

Pada akhir Agustus akan dirilis fitur pengelolaan kelas akselerasi basis K13 pola 4 semester dan 6 semester.

Fitur-fitur Lainnya

Selain fitur-fitur yang disebutkan di atas, berbagai fitur simpatika lainnya akan tetap dapat dilakukan. Fitur-fitur tersebut seperti:

Sumber : http://www.simpatikapati.com/2016/07/fitur-agenda-simpatika-semester-1-2016-2017.html