Menciptakan Insan yang berwawasan Iptek dan Imtak yang menghargai kearifan lokal dan bersahaja serta memiliki intelektual mandiri

Thursday, August 4, 2016

Makalah Tentang Psikologi Perkembangan

Oleh :Nur Alim
dari berbagai Sumber

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Sekumpulan fakta yang dirangkai dari hasil; sebuah pemikiran dan penelitian serta terikat dalam suatu hokum tertentu disebut dengan teori, sebuah teori harus memenuhi beberapa syarat formal diantaranya :
1.      Teori harus masuk akal (logis); didalamnya konsisten artinya tidak ada pernyataan-pernyataan yang saliong bertentangan.
2.      Teori secara empiris harus masuk akal; artinya tidak ada pengamatan ilmiah yang saling berlawanan.
3.      Teori harus diuji dan bersifat hemat; artinya sedapat mungkin terdiri dari beberapa konstruk, proposisi.
4.      Teori harus mempunyai cakupan ilmu yang cukup luas dan mampu mengintegrasikan peneliti terdahulu.
Sebuah teori merupakan kumpulan ide yang logis dan saling berhubungan yang membantu memberi penjelasan dan membuat prediksi[1]
Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan Psikolgi perkembangan memiliki berbagai teori yang digunakan sebagai kerangka dan acuan seorang penggiat atau pelaku ilmu untuk memahami perilaku manusia sesuai dengan perkembangan zaman yang berlaku sekarang,
setiap perkembangan manusia memiliki tahapan tahapan yang berlaklu dan dikaji dalam sebuah teori, makalah ini disajikan sebagai gambaran dan tambahan wawasan kepada mahasiswa untuk menjadikan stimulus dalam mendalami ilmu perkembangan psikologi sebagai salah satu mata kuliah pada prodi Pendidikan Guru Madrasah yang nantinya dapat di aplikasikan ketika kelak Mahasisiwa telah berkecimpung dalam dunia pendidikan sesuai dengan bidang yang di tekuninya.
B.     Rumusan Masalah
1.      pengertian Teori Perkembangan ?
2.      macam terori perkembangan yang berlaku saat ini ?
3.      Bagaimanakah Tahapan perkembangan manusia mnurut teori yang telah dijelaskan ?

C.     Tujuan Penulisan
Melalui tulisan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1.      Mengetahui Pengertian teori perkembangan
2.      Mengetahui macam macam teori perkembangan
3.      Mengetahui tahapan tahapan perkembangan berdasarkan teori tyang dibahas



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Teori Perkembangan
Teori dapat diartikan sebagai model tentang kenyataan yang membantu kita untuk memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol tentang kenyataan tersebut[2].
Teori juga dapat diartikan sebagai (a) sekumpulan atau aeperangkat asumsi (dugaan, perkiraan, atau anggapan) yang relevan, dan secara sistematis saling berkaitan; (b) hipotesis atau spekulasi tentang kenyataan, dan (c) sekumpulan asumsi tentang keterkaitan antara peristiwa-peristiwa empiris (fenomena)[3].
Sedangkan yang dimaksud dari perkembangan adalah suatu proses dimana seorang mengalami perubahan perubahan baik secara psikis maupun secara fisik dalam tahapan tertentu hamoir sama dengan pengrtian pertumbuhan, namun dalam hal ini pertumbuhan lebih di titik beratkan pada perubahan fisiologi sedangkan pertumbhan lebih mengacu pada aspek psikologi manusia,
Dalam penjelasan mengenai teori perkembangan terdapat perbedaan di dalam memahami apa yang termasuk dalam perkembangan dan mengenai cara perkembangan berlangsung. Namun terdapat beberapa prinsip umum yang didukung hampir semua ahli, yaitu :
a.     Manusia berkembang dalam tingkat yang berbeda
Dalam kelas anda akan memiliki seluruh benangan contoh mengenai tingkat perkembangan yang berbeda. Beberapa siswa akan lebih besar, terkoordinasi lebih baik, atau lebih dewasa dibannding dengan yabg lainnya.
b.   Perkembangan relatif runtut
       Orang cenderung mengembangkan kemampuan tertentu sebelum kemampuan yang lain.
c.    Perkembangan berjalan secara gradual Sangat jarang perubahan terjadi setiap hari. Jadi di dalam perkembangan manusia membutuhkan waktu, dan perkembangan itu berjalan relatif sangat lambat dan tidak setiap hari berlangsung[4].



B.     Teori dan tahapan Perkembangan
a.      Teori Psikoanalisis
Menurut teori psikoanalisis (psychoanalytic theory), proses perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat diwarnai oleh emosi. Para ahli teori psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah merupakan karakteristik dipermukaan. Pemahaman sepenuhnya mengenai perkembangan hanya dapat dicapai melalui analisis terhadap makna-makna simbolis dari perilaku serta menelaah pikiran yang lebih dalam. Ahli teori psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman di masa awal dengan orang tua memiliki pengaruh yang luas terhadap perkembangan. Karakteristik-karakteristik ini disoroti dalam teori psikoanalisis utama, yaitu oleh Sigmund Freud[5].
Freud (1917) menyatakan bahwa kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu: id, ego dan superego. Id terdiri dari insting, yang merupakan persendian energy psikis individu. Dalam pandangan Freud, id sepenuhnya tidak disadari; id tidak memiliki kontak dengan realitas. Ketika anak-anak mengalami berbagai tuntutan dan pembatasan realitas, muncul sebuah struktur baru dari kepribadian ego, yang menangani tuntutan realitas. Ego disebut juga “cabang eksekutif” dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional.
Id dan ego tidak mempertimbangkan moralitas, keduanya tidak mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego sering kali kita juluki sebagai “hati nurani”. Anda mungkin mulai merasakan bahwa id dan superego membuat kehidupan menjadi lebih sukar bagi ego.
b.      Teori Kognitif
Jika teori psikoanalisis menekankan pentingnya ketidaksadaran, teori-teori kognitif menekankan pikiran-pikiran yang disadari. Teori kognitif yang berkembang
Seorang psikolog terkenal berkebangsaan Swiss, Jean Piaget (1896-1980) mengajukan sebuah teori penting mengenai perkembangan kognitif. Teori Piaget (piaget’s theory) menyatakan bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif[6]. Dua proses mendasari perkembangan tersebut; organisasi dan adaptasi. Untuk memahami dunia, kita mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kita. Contohnya, kita memisahkan pikiran penting dari yang kurang penting. Kita menghubungkan satu pikiran dengan yang lain. Dengan mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman kita, kita menyesuaikan (adaptasi) pemikiran kita dengan ide-ide baru.
C.     Tahapan Tahapan Perkembangan
Dari dua teori diatas masing masing memiliki pola dan proses tahapan yang berbeda sebagaimana kami jelaskan sebagai berikut
a.      Tahapan Perkembangan teori Psikoanasis
Ketika Freud mendengarkan, menggali dan menganalisis pasien-pasiennya, ia menjadi yakin bahwa masalah mereka bersumber dari pengalaman-pengalaman di masa awal kehidupan. Menurut Freud, manusia akan melalui lima tahap perkembangan psikoseksual dan di setiap tahap perkembangan individu memperoleh kenikmatan di suatu bagian tubuh tertentu.
1.      Tahap oral (oral stage). Tahap oral adalah tahap perkembangan Freudian yang pertama, yang berlangsung selama 18 bulan pertama dari kehidupan, dimana kenikmatan bayi dipusatkan di daerah mulut. Mengunyah, mengisap, dan menggigit menjadi sumber kepuasan yang utama. Aksi-aksi ini dapat meredakan ketegangan pada bayi.
2.      Tahap anal (anal stage). Tahap anal adalah tahap perkembangan Freudian yang kedua, yang berlangsung antara usia 1 setengah tahun hingga 3 tahun, di mana kenikmatan terbesar diperoleh anak di daerah anus atau di fungsi pengeluaran yang terhubung dengan anus. Menurut Freud, latihan otot anal dapat meredakan ketenangan.
3.      Tahap falik (Phallic stage). Tahap falik adalah tahap perkembangan Freudian yang ketiga, yang berlangsung antara usia 3 tahun hingga 6 tahun; nama tersebut berasal dari kata Latin Phallus, yang berarti “penis.” Selama tahap falik, kenikmatan dipusatkan di daerah genital, di mana ini terjadi ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri itu menyenangkan.
menurut Freud, secara khusus tahap falik adalah tahap perkembangan kepribadian karena di periode inilah muncul kompleks Oedipus. Nama ini berasal dari mitologi Yunani, di mana Oedipus, anak laki-laki dari Raja Thebes, tanpa disengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Meurut teori Freud, kompleks Oedipus (Oedipus complex) adalah hasrat yang kuat dari seorang anak kecil untuk menggantikan kedudukan orang tua yang berjenis kelamin sama dan menikmati afeksi yang diperoleh dari orang tua yang berjenis kelamin berbeda. Konsep Freud mengenai kompleks Oedipus ini dikritik oleh sejumlah psikoanalisis dan penulis.
Bagaimana kompleks Oedipus ini diselesaikan? Sekitar usia 5 hingga 6 tahun, anak-anak mengetahui bahwa orang tua mereka yang berjenis kelamin sama itu menghukumnya karena memiliki harapan inses. Untuk meredakan konflik antara ketakutan dan hasrat, anak beridentifikasi dengan orang tua yang berjenis kelamin sama dan berjuan agar dapat menyeru[ainya. Menurut Freud, apabila konflik ini tidak terselesaikan, individu akan terfiksasi pada tahap falik.
4.      Tahap laten (latency stage). Tahap laten adalah tahap perkembangan Freudian yang keempat, yang berlangsung antara usia 6 tahun hingga pubertas; anak menekan semua minat dalam hal seksualitas serta mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual.aktivitas ini dapat menyalurkan sebagian besar energy anak ke dalam bidang-bidang kehidupan emosional yang aman dan dapat membantu anak untuk melupakan konflik yang sangat mengganggu di tahap falik.
5.      Tahap genital (genital stage). Tahap genital adalah tahap perkembangan Freudian yang kelima dan terkahir, yang berlansung sejak masa remaja hingga ke masa selanjutnya. Tahap genital adalah masa dari kebangkitan seksual; kini sumber kenikmatan seksual terletak di luar keluarga. Menurut Freud, konflik-konflik dengan orang tua yang tidak terselesaikan akan muncul kembali di masa remaja. Apabila konflik-konflik ini terselesaikan, individu akan mampu mengembangkan relasi cinta yang matang dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa
b.      Tahapan Perkembangan Teori Kognitif
1.      Tahap sensorimotor, yang berlangsung mulai dari lahir hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama perkembangan Piaget. Dalam tahap ini, anak membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik, karena itulah disebut sensorimotor. Pada awal tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki lebih dari sekedar pola-pola refleksif untuk dapat melakukan sesuatu. Pada akhir tahap ini, anak umur 2 tahun memiliki pola sensorimotor kompleks dan mulai menggunakan symbol-simbol sederhana.
2.      Tahap praoperasional,  yang berlangsung sekitar usia 2 hingga 7 tahun, adalah tahap perkembangan kedua Piaget. Pada tahap ini, anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar dan lukisan. Meskipun de,ikian, meurut Piaget, anak prasekolah masih kurang mampu melakukan operasi, istilah Piaget untuk tindakan mental apa yang sebelumnya hanya dapat dilakukan secara fisik.
3.      Tahap operasional konkret, yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap perkembangan ketiga Piaget. Dalam tahap ini, anak dapat melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan pada contoh khusus dan konkret. Contohnya, pemikir operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan soal persamaan aljabar, yang terlalu abstrak bagi pemikira tahap perkembangan ini.
4.      Tahap operasional formal, yang muncul antara umur 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap perkembangan Piaget yang keempat dan terakhir. Pada tahap ini, individu lebih melampaui pengalaman konkret dan berpikir dalam istilah yang abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari berpikir lebih abstrak, remaja menciptakan bayangan situasi ideal. Mereka dapat berpikir mengenai bagaiamana orang tua ideal ini. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan dan takjub mereka dapat menjadi apa saja. Dalam memecahlan masalah, pemikir operasional formal lebih sistematis, mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi dengan cara tertentu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif





BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Setelah kami gali, kaji, dan paparkan maka kami dapat memberikan kesimpulan bahwa :
1.      Teori Psikoanalisis (psychoanalytic theory) manyatakan bahwa perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari dan sangat diwarnai oleh emosi. Perilaku hanyalah karakteristik di permukaan, dan kerja simbolik dari pikiran harus dianalisis agar perilaku tersebut dapat dipahami. Menekankan pengalaman awal dengan orang tua.
2.      Teori-teori psikoanalisis berfokus pada proses sosial-emosi dari perkembangan; teori tersebut memiliki sedikit informasi untuk diceritakan mengenai proses biologis atau kognitif.
3.      Kontribusi teori psikoanalisis meliputi sebagai berikut:
Teori tersebut menggarisbawahi peran pengalaman awal dalam perkembangan, hubungan keluarga diteliti sebagai aspek pusat perkembangan, teori psikoanalisis menggunakan pendekatan perkembangan pada kepribadian dan memberikan kerangka kerja perkembangan untuk memahaminya, teori Freud mendukung ide bahwa pikiran tidak seluruhnya sadar dan mengarahkan perhatian pada aspek tidak sadar dari pikiran,  dan erikson menunjukkan bahwa perubahan terjadi di masa dewasa seperti juga di masa kanak-kanak.
4.      Jika teori-teri psikoanalisis menekankan pentingnya ketidaksadaran, teori-teori kognitif menekankan pikiran-pikiran yang disadari.
5.      Kontribusi dari teori-teori kognitif meliputi sebagai berikut:
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang positif mengenai perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari, teori-teori kognitif (khususnya teori Piaget dan Vigotsky) menekankan pada usaha aktif individu untuk menyusun pemahamannya, teori Piaget dan Vigotsky menekankan pentingnya kajian terhadap perubahan perkembangan dalam pemikiran, dan teori pemrosesan-informasi sering kali menawarkan deskripsi yang terperinci mengenai proses-proses kognitif.



DAFTAR PUSTAKA
1.      Santrock, John. W. 2007. Remaja. Erlangga : Jakarta
2.      Santrock, John.W. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga : Jakarta
3.      Yusuf LN, Syamsu & Juantika Nurihsan. 2007. Teori Kepribadian. Rosda karya : Bandung




[1] John W.Santrock, Perkembangan Anak, hal. 42
[2] Prof.Dr.Syamsu Yusuf LN,M.Pd & Prof.Dr.A.Juantika Nurihsan,M.Pd, Teori kepribadian (C.George Boeree,2005:1). Hal 2
[3] Ibid, hal 2
[4] Woolfolk, Anita E dan Nicolich, Lorrain McCune. Mengembangkan Kepribadian & Kecerdasan Anak-Anak (Psikologi Pembelajaran I). hal 57-58
[5] John W.Santrock, Remaja. Hal 46
[6] Ibid, hal 48

0 comments:

Post a Comment